Minggu, 20 Desember 2015

BALAI ADAT YANG PERTAMA



Di dalam adat Minangkabau dikenal istilah Balai Nan Saruang, di Pariangan. Disitu, ada Datuk Bandaro Kayo dan Datuk Bandaro Basa sebagai Tampuk Dan Tangkai Alam Minangkabau. Beberapa Penghulu yang lain dikenali juga adanya Bandaro Sati dan seterusnya. Tidak disebutkan, darimana Gelar kedua Datuk yang berfungsi sebagai Tampuk dan tanhgkai Alam ini berasal. Akan tetapi, karena ia adalah Tampuk dan Tangkai di alam yang bernama Minangkabau, maka jelaslah bahwa keberadaan kedua Datuk ini bermula sekitar awal abad ke XV, karena nama Minangkabau itu sendiri baru muncul sekitar tahun 1411, yakni setelah berakhirnya pengaruh Adityawarman.*1)(lihat penelitian prof.Ully Kozok. Pd.Perjanjian ujung tanah.Kerinci).
Akan tetapi, walau bagaimanapun Pariangan dalam pengembangan Adat di Minangkabau dikenal sebagai negari yang tertua, sebagaimana diungkapkan Tambo Minangkabau bahwa Tak kala Ranting mulai di tanam, dst...maka Parianganlah negari yang dianggap sebagai pangkal exodus setelah wilayah adat ini bernama Minangkabau. Namun demikian, jika kita tidak hati-hati membaca Tambo Minangkabau,maka sering salah untuk memahami isi dan makna uraian di dalamnya.Karena Bahasa Tambo sering Mendua arti dan terlalu sarat dengan bahasa tersirat dan kiasan. Akibatnya, penduduk di Pariangan itu sendiri, tidak tahu darimana memoynya berasal.
Oleh karena itu kita mencoba membahas serba sedikit untuk melihat proporsi sejarah Adat Minangkabau yang sesungguhnya. Walaupun pada waktunya tulisan ini akan banyak menuai riak. Karena sejarah adat kita sudah terlalu lama di nina bobokkan oleh legenda yang semu. Saya katakan demikian, karena kita tidak mesti harus percaya dan menelan saja bulat-bulat bahwa nenek moyang orang Minangkabau berasal dari Balik Telong yang bertali, sejak gunung Merapi sebesar telur Itik, sebagaimana dikisahkan tambo.
Sebagaimana telah saya uraikan dalam tulisan saya terdahulu, bahwa Orang Pertama yang datang ke Merapi adalah Suri Dirajo, ia tidak lain adalah Indra Jeti ( Indra di Laut), seorang penganut Budha yang Mualaf, dari kota Indra ( Indra Pura). Perhubungan orang Kalingga di Pantai Barat Sumatera telah sampai ke Tapak Tuan melalui Barus dan air Bangis, yang membawa pengaruh Islam.Asumsi ini diperkuat dengan bahasa Tambo yang menyatakan bahwa wilayah Minang berasal dari Sikilang air bangis, aceh dan Tapak tuan sampai ke Pucuk Jambi Sembilan Lurah, siak sri Indragiri. Keseluruhan wilayah yang disebutkan Tambo berada dalam pengaruh keturunan Raja-raja Indra dari wangsa Syailendra. Secara umum, mereka adalah penganut Budha yang dibuktikan karena Indra yang dimaksud pada masa kecilnya di Semedhikan di chedi Ayuthaya. Chedi ini, adalah pusat pengembangan Budha yang terbesar di Asia. Setelah dewasa, ia kembali ke Sumatera di sungai Indra ( Indra giri). Dengan begitu, dari uraian ini terlihat dengan jelas, bahwa trah keturunan Maharaja Indra  yang kemudian dikenal dengan Datuk Maharaja Indo sebagai ninik yang tertua di Mbonang Koto Laweh, adalah cicit kepada Raja Indravarman ke VI yang bernama Chandra Banhu. Indo Jolito adalah saudaranya, dengan bukti gelang kaki yang di tinggalkannya di srilangka, nama asli Indo Jolito adalah........ Sedangkan ang Sapurba, adalah anak Rayendra Chola dewa yang gagal meminta upeti ke Sriwijaya dalam tahun 1030, perahunya terdampar di Muara Sungai Kampar.Sementara Cheti adalah pedagang, saudagar –saudagar China yang datang dari cantown yang berasimilasi dengan orang-orang Gucci, pengikut Raja Indra memasuki pedalaman Sumatera melalui Indragiri dan Tanah Merah,sampai ke pusat pencaharian emas di hulu Kampar. Tempat itu bernama Koto Anyia, Anding. Sebuah kampong yang terletak di tepi Sungai Sinamar.Di sinilah BALAI SARUANG yang pertama didirikan, ketika Maharaja Indra mula naik ke Darat.
Berbeda dengan Srimaharaja yang datang sesudahnya, antara tahun 1030 -1050 M, menyusuri Muara Kampar Kanan ke hulunya, mendirikan juga satu tempat di hiliran sungai Sinamar ,Tempat itu bernama koto tuo, Hulu Batang Kampar Kanan yang disebut Kampai. Tanah dataran yang mula di cecah, bernama MUNGKAL. Mendirikan juga sebuah Balai yang disebut BALAI NAN TUO.
Masih dalam masa abad ke XI, antara Tahun 1030 M ke tahun  1223 M, terdapat asumsi terjadinya perkawinan silang antara ikutan Ninik nan Baduo ( Srimaharaja dan Maharaja Indra), antara orang-orang Gucci yang berniaga ke pedalaman hulu Kampar termasuk juga orang-orang China yang berniaga dari Kantown ke pedalaman sumatera, telah melahirkan generasi berikutnya. Asumsi ini diperkuat dengan sistim perkawinan di Minangkabau yang tidak membolehkan kawin dalam satu persukuan. Generasi hasil kawin bersilang seperti itu di akhir abad ke XI telah membentuk satu koloni baru di bawah kepemimpinan seorang penghulu yang disebut BANDARO. Posisi Datuk Bandaro ketika itu adalah pemegang amanah dari Datuk Yang berdua ( Maharaja Indra dan Datuk Srimaharaja).Datuk Bandaro memiliki wilayah baru yang menamakan diri Kampong Piliang Pijomban, wilayah aur berduri yang di sebut MAEK. Disitulah Balai Batu, yang Pertama.
 Datuk Bandaro adalah pemegang amanah dari Datuk yang lebih tua, pada gilirannya Datuk Bandaro membuat percabangan (timbang Pacahan) ..pengembangan Datuk Bandaro yang pertama adalah dikenal dengan pembedaan Bandaro berdasarkan warna. Yaitu ; Bandaro Hitam, ke Guguk. Bandaro Hijau ke bukit Barisan, Bandaro Putih ke Kampar, Bandaro Kuning di Kampung Dalam.Tidak mustahil,gelar Bandaro Kuning di ilhami, karena Bandaro ini memiliki sumber emas yang banyak.
Pada awal Abad ke XII, dengan hasil perkawinan antara Indo Jolito ( dari trah Raja Indra ) dan Sri Maharaja ( Dari Trah Raja Chola) telah lahir Sutan Maharajo Basa dan adik-adiknya. Indra jelita yang di gelar sebagai Bundo Kanduang, telah mendirikan negari sungai Kayu Batarok delapan Batu ( delapan kampong di dalamnya) maka untuk menjalankan kuasa dan amanah disana, Datuk Bandaro Putih ditempatkan di tempat itu dari situ bermula sistim Kato Pilihan ( koto Piliang)
Sementara hasil perkawinan antara Indra Jelita  dengan Cheti Bilang Pandai ( Saudagar kaya dari Kantown) telah melahirkan juga Sutan Balun, terkenal dengan sistim adatnya Bodi chaniago. ( bodi Satwa ) Dalam kawasan Bodi Chaniago diangkat seorang Penghulu yang menjalankan amanah, yakni Datuk Bandaro Kuning. Dua datuk Bandaro yang lain masih tetap sampai sekarang di wilayah yang asal. Perkembangan dari Datuk Bandaro tersebut sesudah abad ke XII mengiringi kepemimpinan adat selanjutnya sebagai pemegang amanah, termasuk di Pariangan yakni dengan tumbuhnya dua penghulu sebagai Tampuk dan Tangkai Alam yang kemudian bernama Minangkabau ( Abad ke XV).
Sementara itu di akhir abad ke XI, Orang-orang Kalingga yang berasal dari Mandala Holing ( Mandailing ) telah masuk ke wilayah hulu Kampar. Mereka membentuk perkampungan baru yang disebut Kampung Singkhuang, Kedatangan orang Mandailing ke Hulu kampar mengikut perkawinan Indra jelita (anak Raja Indra Jeti) dengan Srimaharaja . Oleh itu, di perkampungan orang Mandailing terletak di tepi sungai Sinamar yang bersempadan dengan Balai nan Saruang Anding, dalam rentang Kendali Datuk Maharaja Indra. Di kampung orang Mandailing yang disebut Kanpung Singkhuang diberi tiga orang pemimpin adat sebagai seorang Patih. Yakni seorang penghulu yang menjalankan tugas dari Maharaja Indra,orang Chaniago  ketiga penghulu itu adalah;
Datuk Patih Mangkhudum ( Singkhuang) – tepi sinamar.Anding
Datuk Patih Bandaro Bundo ( mengikut Indra Jelita)- kg.Singkhuang
Datuk Patih Bandaro Panjang (Penago)-Singkhuang.
Seperti telah diuraikan bahwa hasil perkawinan silang antar suku di Hulu Kampar telah menumbuh kembangkan masyarakat baru dan wilayah pemukiman baru. Dari situlah munculnya negari-negari baru yang di buka antara lain;  Taeh, Tanjuang Bungo,Kandih,Simelenggang,Silemak,tigo Batu,dan Lareh Sago.Sementara itu, diakhir abad ke XI, orang-orang Kalingga yang mencari emas ke pedalaman Sumatera meninggalkan wilayah itu kembali ke Semenanjung. Melalui muara Sungai Linggi mereka mencari Timah.Kelompok ini dibawah pimpinan seorang penghulu chaniago, yang digelari DATOK PERPATEH PINANG SEBATANG. Dari kampung Shingkuang, Penago.
Pengembangan wilayah untuk kembali ke Muara Kampar, dalam waktu yang lama dalam abad ke XI telah menumbuh kembangkan wilayah-wilayah adat yang baru, dengan membentuk penghulu-penghulu Andiko disetiap Nagari yang dirikan. Penghulu Andiko ini, termasuk di bawah Rentang kendali seorang Penghulu tunggal yang terakhir bernama Rajo Di Balai. Bertempat di Kampung Domo, Kampar. Penghulu andiko dimaksud, terkenal dengan Andiko 44 Kampar.
Rajo di Balai, adalah ninik ke empat dari Empat Ninik yang pertama di Hulu Kampar. Ia berfungsi sebagai penghulu yang menjalankan Undang-Undang adat. Undang-undang adat dimaksud, sejalan dan sebangun dengan Undang-undang menurut kepercayaan Budha yang berpusat di Muara Takus. Ketika itu, Muara Takus disebut juga Balai Tanah Marabau.Keempat penghulu diataslah yang membuat ikrar bersama di Penago, sebagai bermulanya adat bernagari.terkenal dengan batu pasumpahan empat ninik, di penago, Mbonang koto Laweh.Tidak mengherankan, kalau menhir yang berbentuk kepala Gajah, dengan ukiran Ula Maherang terdapat di rumah 50 kota pada Menhir Raja dan Permaisuri.



Terbentuknya Balai adat yang pertama di Hulu Kampar, sampai awal abad ke XII, dalam tahun 1223 M ditandai dengan  masuknya anasir pengaruh Hindu-Budha yang di bawa oleh Raja Sri Aditya ke Muara Takus, maka dalam transisi itu perubahan-perubahan sistim adat dari pengikut Budha ke Hindu bermula. Berbagai bentuk perubahan itu, terdapat juga pada batu2 menhir disekitar Balai.
Oleh itu , Mudah di duga bahwa lahirnya bahasa kiasan di dalam Tambo bermula dari perubahan-perubahan sistim kepercayaan ini. Dimana penganut sistim adat yang berbasiskan ajaran Budha berada dalam tekanan penganut ajaran Hindu yang baru.Para pengikut kepercayaan SRI DHARMA ( Aturan Yang Benar) secara berangsur-angsur menghilang, di ganti dengan aturan Hindu –Budha.Pembesar adat Perpateh, yang terang berasal dari lingkungan Sri Dharma Raja, kembali ke Sri Tammarat di bawah kepemimpinan seorang Patih, seperti telah di uraikan di atas.Merka meneroka tempat baru di muara sungai Linggi, yang disebut Alor Gajah.Patih yang dimaksud bernama Perpateh Pinang Sebatang.
Sebagaimana halnya perjalanan Suci Budha, maka disetiap destinasinya akan meninggalkan jejak telapak kaki, yang disebut Telapak Budha yang selalu mendekati sumber mata air. Bukti nyata perjalanan seorang Budha melintasi alam. Pohon beringin adalah tempat mereka berlindung. Bukti-bukti itu, masih terdapat dibeberapa kawasan di Lereng Sago, 50 kota dan di beberapa tempat di dalam Kabupaten Tanah Datar sekarang. Pada perjalanan suci itu, seorang bikhsu tetap saja dengan uniform mereka yang serba Kuning....saat ini telah disulap sebagai warna kebesaran seorang Raja..dan bukti telapak kaki Budha, konon telah menjadi issue sebagai bekas telapak kaki Nabi.....aahahahahaaa...akan seberapa lama generasi kita di perbodoh oleh dongeng seorang ibu yang berusaha menidurkan anaknya...amboiiii!............................
BALAI ADAT  PERTAMA

Walau bagaimanapun Balai yang asal adalah Balai Batu, Maek.Namun apabila dilihat perkembangan dari ekxodus berikutnya seperti telah di uraikan, Balai Nan Tuo didirkan di Kampung Kampai, Mungkal oleh Sang Sapurba, bergelar Srimaharaja. Di Mungkal disebut Datuk Siri. Balai Rung Sari di Tabek Pariangan, didirikan Oleh orang yang sama, setelah perkawinannya dengan Indo Jolito. Balai Putuih Anding, didirikan oleh Sri Maharaja Indra, terdapat di Koto Anyia. Kedua Balai ini memiliki time line yang hampir sama, yaitu dalam permulaan abad ke XI. Sebelum semua Balai ini didirikan, dikenal Batu sandaran, Batu persumpahan empat Ninik Penago, tempat bermusyawarah.Blai rung Sari adalah merupakan Balai terpanjang ke dua setelah Balai Nan Panjang di Koto Laweh. Mbonang. Balai itu, merupakan Balai rung yang mengacu kepada arsitektur Balai pertemuan Koto Piliang. Sementara Balai Nan Panjang di Mbonang, mengacu kepada sistim adat Bodi Chaniago. Jika Balai Rung Sari bermula sesudah tahun 1250, maka Balai Nan Panjang mbonang di awali dengan Batu empat Ninik di tahun 1050.M yakni masa perkawinan antara Indo Jolito dengan Sri Maharaja yang memiliki Balai Nan tuo, di kampung Kampai-Mungkal. 
Maka tidak bisa di pungkiri, bahwa pendirian Balai-balai adat dengan berbagai ragam seni ukirnya akan sangat erat kaitannya dengan Batuan menhir yang ditemukan sekitar Balai itu. Berbagai ragam bentuk seni hias yang ada pada Batuan Menhir, justru menjadi dasar terbentuknya ragam hias di rumah gadang dan Balai adat. ini buktinya;


 Beberapa pertanda hubungan antara kedua Balai ini diantaranya adalah, jika di Pariangan terdapat Balai Saruang yang di pimpin oleh Datuk Bandaro, maka di Koto Laweh, ada Balai Putuih, Balai saruang yang langsung di pimpin oleh Maharaja Indra. Jika di Balai Rung sari din dirikan oleh Sang Sapurba, maka Balai Nan Panjang Mbonang-Koto Laweh di didirkan berdasarkan persekutuan Tiang Balai. Setiap Tiang Balai, terdiri dari seorang Datuk penghulu kaum dan nagari ( Kampung/Mukim).Di dalam Balai Nan Panjang Mbonang, terdapat 24 Kampong/Mukim dan otomatis terdapat 24 Tiang Balai. Mereka adalah;
Datuk Marajo Melayu – koto kampung Bunta)
Datuk Ateh Kampung ( asal kampung Mandailing)
Datuk Mulia Marajo ( Asal kampung Kampai)
Datuk Bosa Marajo (Asal kampung Bendang)
Datuk Kali Marajo ( Asal Kampung Jambak )
Datuk Bijo ( asal kampung Pitopang.)
Datuk Majo Indo Putih ( Asal kampung Koto Anyia )
Datuk Sati ( asal kampung Banuhampu)- Merapi
Datuk Rajo (Kampung Salo)
Datuk Perpateh Nan sebatang ( Asal kampung Chaniago)-Penago
Datuk Perpateh Suwangi ( Asal Kampung Bodi )
Datuk Patih Mangkhudum ( Asal kampung Singkhuang)
Datuk Sabatang ( Asal kampung Lubuk Batang)
Datuk Bandaro Gopung (Asal kampung Sungai Napa)
Datuk Bandaro Panjang (Asal kampung Si Panjang)
Datuk Katumanggungan ( asal Kampung koto)
Datuk Bandaro Sati ( Asal kampung Piliang)
Datuk Makomat (Asal kampung Orang Gucci)
Datuk Mamangun (Asal kampung Tanjung)
Datuk Majo Bosa ( Asal kampung Pisang)
Datuk Panjang ( asal Kapung Payo Badar)
Datuk Majo Indo ( Asal kampung Paga cancang)
Datuk Simarajo (Asal kampung Simabur)
Datuk Tumbijo Di Rajo Asal Kampung Sikumbang.

Struktur  Tiang Balai ini dilengkapioleh 4 (empat) Sandi Padek. Iaitu
Datuk Bandaro Kayo, sebagai peti Bunian......asal mula gelar ke Pariangan.
Datuk Rajo Mangkuto,( Protokol)
Datuk Bandaro Kulabu, Cimoti Api. (Penerangan)
Datuk Bagindo Sati Nan Manahan ( Juru Adat )
Dalam Balai ini, terdapat Penghulu 4 Suku, dengan 8 (delapan) Nagari di dalamnya, yaitu;
Sudut Nan empat  
Sudut Nan Limo
Sudut Nan Enam
Sudut Nan Sembilan
Didalam keempat bagian diatas, terdapat delapan Nagari, yang masing-masingnya di pimpin seorang Datuk. Iaitu;
Datuk Tantamo- Kampung Mandahiling.Koto Bunta
Datuk Raja Johor- Kampung Orang Melayu, Koto Panjang
Datuk Bandaro Gomuk.Kampung Koto Anya-Koto Bunta
Datuk Bandaro Bacupak Omeh, Kampung Koto Anya,Koto Panjang
Datuk Bandaro Panjang-Kampung Singkuang
Datuk Rang Kayo Besar,Kampung Chaniago-Koto Panjang
Datuk Rajo Marajo Kampung Pisang
Datuk Bandaro Lepai,Kampung Paga Cancang.Koto Panjang.
Balai Adat ini dipimpin oleh seorang Panglima adat, gelarnya adalah Rajo Lelo. Ia adalah Ikutan dari Ninik Maharaja Indra dan Srimaharaja. Dia dibantu oleh dua orang Hulubalang bergelar;
Kulang Kencong (Kepala rumah tangga)
Mambang di awan ( Urusan luar-Umum)
Dari formasi di atas, sistim adat yang dijalankan di Balai Nan Panjang Mbonang, terlihat dengan jelas adalah sistim Bodi Chaniago, sistim Musyawarah yang di warisi dari ajaran Sri Dharma.Sementara di Balai Rung Sari, Tabek, Pariangan terdapat dua sistim yakni sistim adat yakni sistim Bodi Chaniago dan sisttim Koto Piliang yang memiliki sistim hirarki, cara hidup ber tingkat, mengacu pada pemahaman ajaran hindu- Buda. Dari situlah lahirnya sistim adat yang disebut BASA AMPEK BALAI.
Sistim Basa Ampek Balai, di Balai Nan Panjang Mbonang tidak di amalkan.  Sementara itu, di wilayah Bukit Barisan dan Pasaman, terbentuk 15 orang pembesar negeri yang di sebut juga Basa 15 yang tidak tunduk kepada aturan koto Piliang. Terutama, sebuah kampong disana yang disebut Koto Tangah, adalah suku Mais- (Maek). Dibawah rentang kendali Datuk Sinara. Mereka  punya aturan yang lebih awal.yakni dari Maek-Anding. Yakni berasal dari ajaran Sri Dharma.= aturan yang benar Sistim adat seperti ini telah berjalan di Minangkabau, sampai masuknya era Adityawarman tahun 1331 C yang menamakan dirinya sebagai yang di Pertuan Suravaca, ia mengangkat dirinya sebagai Srimaharaja Diraja tahun 1337 C dan berakhir  dalam tahun 1411C, di Biaro

----------------------

Anthonyswan.Pi.Art.
Gelar Datok Paduka Rangkayo Besar Bertuah
Monti Adat Datuk Patih Besar-persukuan Gucci
Dalam genggaman Datuk Rangkayo Besar –Kampung Chaniago
Trah keturunan Idravarman ke VI. Sri Tammarat.
Balai Adat Nan Panjang
Mbonang- Koto Laweh.Minangkabau.