Di dalam adat Minangkabau
dikenal istilah Balai Nan Saruang, di Pariangan. Disitu, ada Datuk Bandaro Kayo
dan Datuk Bandaro Basa sebagai Tampuk Dan Tangkai Alam Minangkabau. Beberapa
Penghulu yang lain dikenali juga adanya Bandaro Sati dan seterusnya. Tidak
disebutkan, darimana Gelar kedua Datuk yang berfungsi sebagai Tampuk dan
tanhgkai Alam ini berasal. Akan tetapi, karena ia adalah Tampuk dan Tangkai di
alam yang bernama Minangkabau, maka jelaslah bahwa keberadaan kedua Datuk ini
bermula sekitar awal abad ke XV, karena nama Minangkabau itu sendiri baru
muncul sekitar tahun 1411, yakni setelah berakhirnya pengaruh Adityawarman.*1)(lihat
penelitian prof.Ully Kozok. Pd.Perjanjian ujung tanah.Kerinci).
Akan tetapi, walau
bagaimanapun Pariangan dalam pengembangan Adat di Minangkabau dikenal sebagai
negari yang tertua, sebagaimana diungkapkan Tambo Minangkabau bahwa Tak kala
Ranting mulai di tanam, dst...maka Parianganlah negari yang dianggap sebagai
pangkal exodus setelah wilayah adat ini bernama Minangkabau. Namun demikian,
jika kita tidak hati-hati membaca Tambo Minangkabau,maka sering salah untuk
memahami isi dan makna uraian di dalamnya.Karena Bahasa Tambo sering Mendua
arti dan terlalu sarat dengan bahasa tersirat dan kiasan. Akibatnya, penduduk
di Pariangan itu sendiri, tidak tahu darimana memoynya berasal.
Oleh karena itu kita mencoba
membahas serba sedikit untuk melihat proporsi sejarah Adat Minangkabau yang
sesungguhnya. Walaupun pada waktunya tulisan ini akan banyak menuai riak.
Karena sejarah adat kita sudah terlalu lama di nina bobokkan oleh legenda yang semu.
Saya katakan demikian, karena kita tidak mesti harus percaya dan menelan saja
bulat-bulat bahwa nenek moyang orang Minangkabau berasal dari Balik Telong yang
bertali, sejak gunung Merapi sebesar telur Itik, sebagaimana dikisahkan tambo.
Sebagaimana telah saya uraikan
dalam tulisan saya terdahulu, bahwa Orang Pertama yang datang ke Merapi adalah
Suri Dirajo, ia tidak lain adalah Indra Jeti ( Indra di Laut), seorang penganut
Budha yang Mualaf, dari kota Indra ( Indra Pura). Perhubungan orang Kalingga di
Pantai Barat Sumatera telah sampai ke Tapak Tuan melalui Barus dan air Bangis,
yang membawa pengaruh Islam.Asumsi ini diperkuat dengan bahasa Tambo yang
menyatakan bahwa wilayah Minang berasal dari Sikilang air bangis, aceh dan
Tapak tuan sampai ke Pucuk Jambi Sembilan Lurah, siak sri Indragiri.
Keseluruhan wilayah yang disebutkan Tambo berada dalam pengaruh keturunan
Raja-raja Indra dari wangsa Syailendra. Secara umum, mereka adalah penganut
Budha yang dibuktikan karena Indra yang dimaksud pada masa kecilnya di
Semedhikan di chedi Ayuthaya. Chedi ini, adalah pusat pengembangan Budha yang
terbesar di Asia. Setelah dewasa, ia kembali ke Sumatera di sungai Indra (
Indra giri). Dengan begitu, dari uraian ini terlihat dengan jelas, bahwa trah
keturunan Maharaja Indra yang kemudian
dikenal dengan Datuk Maharaja Indo sebagai ninik yang tertua di Mbonang Koto
Laweh, adalah cicit kepada Raja Indravarman ke VI yang bernama Chandra Banhu.
Indo Jolito adalah saudaranya, dengan bukti gelang kaki yang di tinggalkannya
di srilangka, nama asli Indo Jolito adalah........ Sedangkan ang Sapurba,
adalah anak Rayendra Chola dewa yang gagal meminta upeti ke Sriwijaya dalam
tahun 1030, perahunya terdampar di Muara Sungai Kampar.Sementara Cheti adalah
pedagang, saudagar –saudagar China yang datang dari cantown yang berasimilasi
dengan orang-orang Gucci, pengikut Raja Indra memasuki pedalaman Sumatera
melalui Indragiri dan Tanah Merah,sampai ke pusat pencaharian emas di hulu
Kampar. Tempat itu bernama Koto Anyia, Anding. Sebuah kampong yang terletak di
tepi Sungai Sinamar.Di sinilah BALAI SARUANG yang pertama didirikan, ketika
Maharaja Indra mula naik ke Darat.
Berbeda dengan Srimaharaja
yang datang sesudahnya, antara tahun 1030 -1050 M, menyusuri Muara Kampar Kanan
ke hulunya, mendirikan juga satu tempat di hiliran sungai Sinamar ,Tempat itu
bernama koto tuo, Hulu Batang Kampar Kanan yang disebut Kampai. Tanah dataran
yang mula di cecah, bernama MUNGKAL. Mendirikan juga sebuah Balai yang disebut
BALAI NAN TUO.
Masih dalam masa abad ke XI,
antara Tahun 1030 M ke tahun 1223 M,
terdapat asumsi terjadinya perkawinan silang antara ikutan Ninik nan Baduo (
Srimaharaja dan Maharaja Indra), antara orang-orang Gucci yang berniaga ke
pedalaman hulu Kampar termasuk juga orang-orang China yang berniaga dari
Kantown ke pedalaman sumatera, telah melahirkan generasi berikutnya. Asumsi ini
diperkuat dengan sistim perkawinan di Minangkabau yang tidak membolehkan kawin
dalam satu persukuan. Generasi hasil kawin bersilang seperti itu di akhir abad
ke XI telah membentuk satu koloni baru di bawah kepemimpinan seorang penghulu
yang disebut BANDARO. Posisi Datuk Bandaro ketika itu adalah pemegang amanah
dari Datuk Yang berdua ( Maharaja Indra dan Datuk Srimaharaja).Datuk Bandaro
memiliki wilayah baru yang menamakan diri Kampong Piliang Pijomban, wilayah aur
berduri yang di sebut MAEK. Disitulah Balai Batu, yang Pertama.
Datuk Bandaro adalah pemegang amanah dari
Datuk yang lebih tua, pada gilirannya Datuk Bandaro membuat percabangan
(timbang Pacahan) ..pengembangan Datuk Bandaro yang pertama adalah dikenal
dengan pembedaan Bandaro berdasarkan warna. Yaitu ; Bandaro Hitam, ke Guguk.
Bandaro Hijau ke bukit Barisan, Bandaro Putih ke Kampar, Bandaro Kuning di
Kampung Dalam.Tidak mustahil,gelar Bandaro Kuning di ilhami, karena Bandaro ini
memiliki sumber emas yang banyak.
Pada awal Abad ke XII, dengan
hasil perkawinan antara Indo Jolito ( dari trah Raja Indra ) dan Sri Maharaja (
Dari Trah Raja Chola) telah lahir Sutan Maharajo Basa dan adik-adiknya. Indra
jelita yang di gelar sebagai Bundo Kanduang, telah mendirikan negari sungai
Kayu Batarok delapan Batu ( delapan kampong di dalamnya) maka untuk menjalankan
kuasa dan amanah disana, Datuk Bandaro Putih ditempatkan di tempat itu dari
situ bermula sistim Kato Pilihan ( koto Piliang)
Sementara hasil perkawinan
antara Indra Jelita dengan Cheti Bilang
Pandai ( Saudagar kaya dari Kantown) telah melahirkan juga Sutan Balun,
terkenal dengan sistim adatnya Bodi chaniago. ( bodi Satwa ) Dalam kawasan Bodi
Chaniago diangkat seorang Penghulu yang menjalankan amanah, yakni Datuk Bandaro
Kuning. Dua datuk Bandaro yang lain masih tetap sampai sekarang di wilayah yang
asal. Perkembangan dari Datuk Bandaro tersebut sesudah abad ke XII mengiringi
kepemimpinan adat selanjutnya sebagai pemegang amanah, termasuk di Pariangan
yakni dengan tumbuhnya dua penghulu sebagai Tampuk dan Tangkai Alam yang
kemudian bernama Minangkabau ( Abad ke XV).
Sementara itu di akhir abad ke
XI, Orang-orang Kalingga yang berasal dari Mandala Holing ( Mandailing ) telah
masuk ke wilayah hulu Kampar. Mereka membentuk perkampungan baru yang disebut
Kampung Singkhuang, Kedatangan orang Mandailing ke Hulu kampar mengikut
perkawinan Indra jelita (anak Raja Indra Jeti) dengan Srimaharaja . Oleh itu,
di perkampungan orang Mandailing terletak di tepi sungai Sinamar yang
bersempadan dengan Balai nan Saruang Anding, dalam rentang Kendali Datuk
Maharaja Indra. Di kampung orang Mandailing yang disebut Kanpung Singkhuang
diberi tiga orang pemimpin adat sebagai seorang Patih. Yakni seorang penghulu
yang menjalankan tugas dari Maharaja Indra,orang Chaniago ketiga penghulu itu adalah;
Datuk Patih Mangkhudum (
Singkhuang) – tepi sinamar.Anding
Datuk Patih Bandaro Bundo (
mengikut Indra Jelita)- kg.Singkhuang
Datuk Patih Bandaro Panjang (Penago)-Singkhuang.
Seperti telah diuraikan bahwa
hasil perkawinan silang antar suku di Hulu Kampar telah menumbuh kembangkan
masyarakat baru dan wilayah pemukiman baru. Dari situlah munculnya
negari-negari baru yang di buka antara lain;
Taeh, Tanjuang Bungo,Kandih,Simelenggang,Silemak,tigo Batu,dan Lareh
Sago.Sementara itu, diakhir abad ke XI, orang-orang Kalingga yang mencari emas
ke pedalaman Sumatera meninggalkan wilayah itu kembali ke Semenanjung. Melalui
muara Sungai Linggi mereka mencari Timah.Kelompok ini dibawah pimpinan seorang
penghulu chaniago, yang digelari DATOK PERPATEH PINANG SEBATANG. Dari kampung
Shingkuang, Penago.
Pengembangan wilayah untuk
kembali ke Muara Kampar, dalam waktu yang lama dalam abad ke XI telah menumbuh
kembangkan wilayah-wilayah adat yang baru, dengan membentuk penghulu-penghulu
Andiko disetiap Nagari yang dirikan. Penghulu Andiko ini, termasuk di bawah
Rentang kendali seorang Penghulu tunggal yang terakhir bernama Rajo Di Balai.
Bertempat di Kampung Domo, Kampar. Penghulu andiko dimaksud, terkenal dengan
Andiko 44 Kampar.
Rajo di Balai, adalah ninik ke
empat dari Empat Ninik yang pertama di Hulu Kampar. Ia berfungsi sebagai
penghulu yang menjalankan Undang-Undang adat. Undang-undang adat dimaksud,
sejalan dan sebangun dengan Undang-undang menurut kepercayaan Budha yang
berpusat di Muara Takus. Ketika itu, Muara Takus disebut juga Balai Tanah
Marabau.Keempat penghulu diataslah yang membuat ikrar bersama di Penago,
sebagai bermulanya adat bernagari.terkenal dengan batu pasumpahan empat ninik,
di penago, Mbonang koto Laweh.Tidak mengherankan, kalau menhir yang berbentuk kepala Gajah, dengan ukiran Ula Maherang terdapat di rumah 50 kota pada Menhir Raja dan Permaisuri.
Terbentuknya Balai adat yang
pertama di Hulu Kampar, sampai awal abad ke XII, dalam tahun 1223 M ditandai
dengan masuknya anasir pengaruh
Hindu-Budha yang di bawa oleh Raja Sri Aditya ke Muara Takus, maka dalam
transisi itu perubahan-perubahan sistim adat dari pengikut Budha ke Hindu
bermula. Berbagai bentuk perubahan itu, terdapat juga pada batu2 menhir disekitar Balai.
Oleh itu , Mudah di duga bahwa lahirnya bahasa kiasan di dalam Tambo
bermula dari perubahan-perubahan sistim kepercayaan ini. Dimana penganut sistim
adat yang berbasiskan ajaran Budha berada dalam tekanan penganut ajaran Hindu
yang baru.Para pengikut kepercayaan SRI DHARMA ( Aturan Yang Benar) secara
berangsur-angsur menghilang, di ganti dengan aturan Hindu –Budha.Pembesar adat
Perpateh, yang terang berasal dari lingkungan Sri Dharma Raja, kembali ke Sri
Tammarat di bawah kepemimpinan seorang Patih, seperti telah di uraikan di atas.Merka
meneroka tempat baru di muara sungai Linggi, yang disebut Alor Gajah.Patih yang
dimaksud bernama Perpateh Pinang Sebatang.
Sebagaimana halnya perjalanan
Suci Budha, maka disetiap destinasinya akan meninggalkan jejak telapak kaki,
yang disebut Telapak Budha yang selalu mendekati sumber mata air. Bukti nyata
perjalanan seorang Budha melintasi alam. Pohon beringin adalah tempat mereka
berlindung. Bukti-bukti itu, masih terdapat dibeberapa kawasan di Lereng Sago,
50 kota dan di beberapa tempat di dalam Kabupaten Tanah Datar sekarang. Pada
perjalanan suci itu, seorang bikhsu tetap saja dengan uniform mereka yang serba
Kuning....saat ini telah disulap sebagai warna kebesaran seorang Raja..dan
bukti telapak kaki Budha, konon telah menjadi issue sebagai bekas telapak kaki
Nabi.....aahahahahaaa...akan seberapa lama generasi kita di perbodoh oleh
dongeng seorang ibu yang berusaha menidurkan anaknya...amboiiii!............................
BALAI ADAT PERTAMA
Walau bagaimanapun Balai yang asal adalah Balai Batu, Maek.Namun apabila dilihat perkembangan dari ekxodus berikutnya seperti telah di uraikan,
Balai Nan Tuo didirkan di Kampung Kampai, Mungkal oleh Sang Sapurba, bergelar
Srimaharaja. Di Mungkal disebut Datuk Siri. Balai Rung Sari di Tabek Pariangan,
didirikan Oleh orang yang sama, setelah perkawinannya dengan Indo Jolito. Balai
Putuih Anding, didirikan oleh Sri Maharaja Indra, terdapat di Koto Anyia.
Kedua Balai ini memiliki time line yang hampir sama, yaitu dalam permulaan abad
ke XI. Sebelum semua Balai ini didirikan, dikenal Batu sandaran, Batu
persumpahan empat Ninik Penago, tempat bermusyawarah.Blai rung Sari adalah
merupakan Balai terpanjang ke dua setelah Balai Nan Panjang di Koto Laweh.
Mbonang. Balai itu, merupakan Balai rung yang mengacu kepada arsitektur Balai
pertemuan Koto Piliang. Sementara Balai Nan Panjang di Mbonang, mengacu kepada
sistim adat Bodi Chaniago. Jika Balai Rung Sari bermula sesudah tahun 1250, maka
Balai Nan Panjang mbonang di awali dengan Batu empat Ninik di tahun 1050.M
yakni masa perkawinan antara Indo Jolito dengan Sri Maharaja yang memiliki
Balai Nan tuo, di kampung Kampai-Mungkal.
Maka tidak bisa di pungkiri, bahwa pendirian Balai-balai adat dengan berbagai ragam seni ukirnya akan sangat erat kaitannya dengan Batuan menhir yang ditemukan sekitar Balai itu. Berbagai ragam bentuk seni hias yang ada pada Batuan Menhir, justru menjadi dasar terbentuknya ragam hias di rumah gadang dan Balai adat. ini buktinya;
Beberapa pertanda hubungan
antara kedua Balai ini diantaranya adalah, jika di Pariangan terdapat Balai
Saruang yang di pimpin oleh Datuk Bandaro, maka di Koto Laweh, ada Balai
Putuih, Balai saruang yang langsung di pimpin oleh Maharaja Indra. Jika di
Balai Rung sari din dirikan oleh Sang Sapurba, maka Balai Nan Panjang
Mbonang-Koto Laweh di didirkan berdasarkan persekutuan Tiang Balai. Setiap
Tiang Balai, terdiri dari seorang Datuk penghulu kaum dan nagari (
Kampung/Mukim).Di dalam Balai Nan Panjang Mbonang, terdapat 24 Kampong/Mukim
dan otomatis terdapat 24 Tiang Balai. Mereka adalah;
Datuk Marajo Melayu – koto
kampung Bunta)
Datuk Ateh Kampung ( asal
kampung Mandailing)
Datuk Mulia Marajo ( Asal
kampung Kampai)
Datuk Bosa Marajo (Asal
kampung Bendang)
Datuk Kali Marajo ( Asal
Kampung Jambak )
Datuk Bijo ( asal kampung
Pitopang.)
Datuk Majo Indo Putih ( Asal
kampung Koto Anyia )
Datuk Sati ( asal kampung
Banuhampu)- Merapi
Datuk Rajo (Kampung Salo)
Datuk Perpateh Nan sebatang (
Asal kampung Chaniago)-Penago
Datuk Perpateh Suwangi ( Asal
Kampung Bodi )
Datuk Patih Mangkhudum ( Asal
kampung Singkhuang)
Datuk Sabatang ( Asal kampung
Lubuk Batang)
Datuk Bandaro Gopung (Asal
kampung Sungai Napa)
Datuk Bandaro Panjang (Asal
kampung Si Panjang)
Datuk Katumanggungan ( asal
Kampung koto)
Datuk Bandaro Sati ( Asal
kampung Piliang)
Datuk Makomat (Asal kampung
Orang Gucci)
Datuk Mamangun (Asal kampung
Tanjung)
Datuk Majo Bosa ( Asal kampung
Pisang)
Datuk Panjang ( asal Kapung
Payo Badar)
Datuk Majo Indo ( Asal kampung
Paga cancang)
Datuk Simarajo (Asal kampung
Simabur)
Datuk Tumbijo Di Rajo Asal
Kampung Sikumbang.
Struktur Tiang Balai ini dilengkapioleh 4 (empat)
Sandi Padek. Iaitu
Datuk Bandaro Kayo, sebagai
peti Bunian......asal mula gelar ke Pariangan.
Datuk Rajo Mangkuto,(
Protokol)
Datuk Bandaro Kulabu, Cimoti
Api. (Penerangan)
Datuk Bagindo Sati Nan Manahan
( Juru Adat )
Dalam Balai ini, terdapat
Penghulu 4 Suku, dengan 8 (delapan) Nagari di dalamnya, yaitu;
Sudut Nan empat
Sudut Nan Limo
Sudut Nan Enam
Sudut Nan Sembilan
Didalam keempat bagian diatas,
terdapat delapan Nagari, yang masing-masingnya di pimpin seorang Datuk. Iaitu;
Datuk Tantamo- Kampung
Mandahiling.Koto Bunta
Datuk Raja Johor- Kampung
Orang Melayu, Koto Panjang
Datuk Bandaro Gomuk.Kampung
Koto Anya-Koto Bunta
Datuk Bandaro Bacupak Omeh,
Kampung Koto Anya,Koto Panjang
Datuk Bandaro Panjang-Kampung
Singkuang
Datuk Rang Kayo Besar,Kampung
Chaniago-Koto Panjang
Datuk Rajo Marajo Kampung
Pisang
Datuk Bandaro Lepai,Kampung
Paga Cancang.Koto Panjang.
Balai Adat ini dipimpin oleh
seorang Panglima adat, gelarnya adalah Rajo Lelo. Ia adalah Ikutan dari Ninik
Maharaja Indra dan Srimaharaja. Dia dibantu oleh dua orang Hulubalang bergelar;
Kulang Kencong (Kepala rumah
tangga)
Mambang di awan ( Urusan
luar-Umum)
Dari formasi di atas, sistim
adat yang dijalankan di Balai Nan Panjang Mbonang, terlihat dengan jelas adalah
sistim Bodi Chaniago, sistim Musyawarah yang di warisi dari ajaran Sri
Dharma.Sementara di Balai Rung Sari, Tabek, Pariangan terdapat dua sistim yakni
sistim adat yakni sistim Bodi Chaniago dan sisttim Koto Piliang yang memiliki
sistim hirarki, cara hidup ber tingkat, mengacu pada pemahaman ajaran hindu-
Buda. Dari situlah lahirnya sistim adat yang disebut BASA AMPEK BALAI.
Sistim Basa Ampek Balai, di
Balai Nan Panjang Mbonang tidak di amalkan.
Sementara itu, di wilayah Bukit Barisan dan Pasaman, terbentuk 15 orang
pembesar negeri yang di sebut juga Basa 15 yang tidak tunduk kepada aturan koto
Piliang. Terutama, sebuah kampong disana yang disebut Koto Tangah, adalah suku
Mais- (Maek). Dibawah rentang kendali Datuk Sinara. Mereka punya aturan yang lebih awal.yakni dari
Maek-Anding. Yakni berasal dari ajaran Sri Dharma.= aturan yang benar Sistim
adat seperti ini telah berjalan di Minangkabau, sampai masuknya era
Adityawarman tahun 1331 C yang menamakan dirinya sebagai yang di Pertuan
Suravaca, ia mengangkat dirinya sebagai Srimaharaja Diraja tahun 1337 C dan
berakhir dalam tahun 1411C, di Biaro
----------------------
Anthonyswan.Pi.Art.
Gelar Datok Paduka Rangkayo
Besar Bertuah
Monti Adat Datuk Patih Besar-persukuan
Gucci
Dalam genggaman Datuk Rangkayo
Besar –Kampung Chaniago
Trah keturunan Idravarman ke
VI. Sri Tammarat.
Balai Adat Nan Panjang
Mbonang- Koto Laweh.Minangkabau.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar